Lompat ke konten
Beranda » Berita » Menaklukkan Rasa Malas, Merawat Mimpi: Kisah Dua Siswa yang Tak Berhenti Berjuang untuk Berprestasi

Menaklukkan Rasa Malas, Merawat Mimpi: Kisah Dua Siswa yang Tak Berhenti Berjuang untuk Berprestasi

Bagi Moch Aby Rais Pratama dan Evan Farrel Atharizz Nur Daffa, prestasi bukan sekadar tentang piala dan kemenangan. Di balik kesibukan belajar, kegiatan organisasi, dan latihan, ada perjuangan melawan rasa malas, dukungan orang tua, serta cita-cita yang terus mereka jaga.

ditulis oleh: Novita Delima (7A) dan Sofya (7G)

Ruang kelas mungkin menjadi tempat mereka menimba ilmu setiap hari, tetapi bagi Moch Aby Rais Pratama dan Evan Farrel Atharizz Nur Daffa, perjalanan belajar tidak berhenti ketika bel sekolah berbunyi. Ada waktu yang harus dibagi, materi yang perlu dipelajari kembali, dan latihan yang mesti dijalani demi mempersiapkan diri menghadapi berbagai kompetisi. Di tengah kesibukan itu, keduanya menyimpan mimpi besar tentang masa depan.

Di balik pengalaman tersebut, ada satu kesamaan yang menyatukan keduanya: keinginan untuk terus berkembang dan membangun masa depan melalui pendidikan.

Belajar Hari Ini, Membahagiakan Orang Tua Esok Hari

Moch Aby Rais Pratama, siswa kelas 9A, memiliki minat di bidang akademik dan olahraga, khususnya handball. Ia pernah mengikuti berbagai kompetisi, seperti Matematika, Al-Qur’an, dan Olimpiade Sains Nasional (OSN). Baginya, prestasi menjadi bekal untuk melanjutkan pendidikan dan meraih kesuksesan.

Motivasi terbesar Aby adalah membahagiakan kedua orang tuanya. Ia menyadari bahwa keberhasilan membutuhkan usaha dan kebiasaan belajar yang tekun. Ia ingin membalas dukungan orang tuanya dengan meraih masa depan yang lebih baik.

Sementara itu, Evan Farrel Atharizz Nur Daffa, siswa kelas 9G, memiliki minat pada bidang akademik dan olahraga. Ia pernah mengikuti lomba IPS dan PPKn Wawasan Kebangsaan. Evan bercita-cita mendalami bidang pertambangan dan menjadikan impian tersebut sebagai motivasi untuk terus belajar.

Melawan Musuh yang Bernama Rasa Malas

Bagi Aby, rasa malas menjadi tantangan terbesar dalam belajar. Ia juga pernah mengalami kekalahan dalam perlombaan hingga merasa ingin menyerah. Namun, dukungan orang tua membuatnya kembali bersemangat untuk belajar dan berlatih.

Aby berusaha mengevaluasi kesalahan dan memperbaiki kekurangannya agar lebih siap menghadapi kompetisi berikutnya. Usaha tersebut membuahkan hasil ketika ia berhasil meraih juara kedua dalam kompetisi tahfiz Al-Qur’an.

Evan memiliki cara tersendiri untuk mengatasi rasa malas, yaitu mengingat cita-citanya. Keinginan bekerja di bidang pertambangan membuatnya kembali termotivasi untuk belajar. Baginya, mengingat tujuan masa depan menjadi cara untuk menjaga semangat ketika menghadapi kesulitan.

Mengatur Waktu, Menjaga Keseimbangan

Kesibukan belajar dan kegiatan ekstrakurikuler mengharuskan Aby mengatur waktu dengan baik. Ketika mengikuti kegiatan sekolah, ia menyesuaikan waktu belajarnya pada malam hari. Jika tidak ada kegiatan tambahan, ia memanfaatkan waktu untuk belajar lebih banyak.

Selain mengatur waktu, Aby menekankan pentingnya latihan sebelum mengikuti perlombaan. Ia juga menyadari bahwa istirahat yang cukup diperlukan agar tubuh dan pikiran tetap segar saat menghadapi kompetisi.

Evan memilih waktu setelah salat Subuh atau Magrib untuk belajar. Ia juga mengikuti ekstrakurikuler handball sehingga perlu membagi waktu antara belajar, berolahraga, dan beristirahat. Kebiasaan tersebut membantunya menjaga keseimbangan kegiatan sehari-hari.

Belajar Bekerja Sama, Belajar Memahami Perbedaan

Pengalaman bekerja dalam tim menjadi pelajaran penting bagi Aby. Dalam kegiatan Duta Gentara, ia bersama empat siswa lainnya menyusun tulisan dan mempersiapkan presentasi. Mereka harus bekerja sama untuk menyelesaikan tugas yang diberikan.

Perbedaan karakter setiap anggota menjadi tantangan tersendiri. Ada anggota yang kurang bersemangat berlatih atau sulit mengikuti kesepakatan kelompok. Pengalaman tersebut mengajarkan Aby pentingnya komunikasi, kesabaran, dan pembagian tugas.

Sebagai Wakil Ketua OSIS II, Aby juga terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan sekolah, termasuk class meeting. Ia berharap kegiatan tersebut dapat mengembangkan kemampuan siswa, mempererat persaudaraan, dan menciptakan lingkungan sekolah yang lebih positif.

Dari Prestasi Pribadi Menuju Perubahan di Sekolah

Selain berusaha meraih prestasi, Aby memiliki perhatian terhadap perkembangan literasi di sekolahnya. Sebagai Duta Gentara, ia melihat bahwa budaya literasi masih perlu dikembangkan agar siswa semakin tertarik membaca dan menulis.

Salah satu gagasan yang ingin diwujudkannya adalah pembuatan majalah sekolah. Melalui media tersebut, siswa diharapkan memiliki kesempatan untuk menyalurkan kreativitas, menulis karya, dan menyampaikan gagasan mereka.

Keinginan Aby menunjukkan bahwa prestasi tidak harus berhenti pada pencapaian pribadi. Pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki juga dapat dibagikan untuk memberikan manfaat bagi teman-teman dan lingkungan sekolah.

Merawat Mimpi, Menjaga Langkah

Aby memiliki rencana melanjutkan pendidikan ke SMA Taruna, kemudian kuliah dan mengikuti pendidikan Bintara Polri. Ia berharap dapat mengabdikan diri kepada negara melalui profesi yang dicita-citakannya.

Sementara itu, Evan berharap dapat melanjutkan pendidikan yang mendukung cita-citanya bekerja di bidang pertambangan. Ia berusaha memperluas pengetahuan dan mempersiapkan diri agar memiliki bekal untuk meraih impian tersebut.

Kisah Aby dan Evan mengajarkan bahwa prestasi membutuhkan usaha, kedisiplinan, dan kemauan untuk bangkit setelah mengalami kegagalan. Sebab, keberhasilan bukan hanya tentang menjadi juara, melainkan juga tentang terus belajar, memperbaiki diri, dan memberikan manfaat bagi orang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *